Custom Search

Sunday, July 6, 2008

Abulung: Korban Sejarah atau Politik Ajaran

dalam dunia Tasawuf ada beberapa kejadian yang terjadi dalam struktur yang hampir sama, yaitu terbunuhnya atau dihukumnya para ahli tasawuf lokal yang berorientasi pada tasawuf "falsafi"(saya beri tanda kurung karena saya kurang yakin pada pembagian seperti ini sunni&akhlaki vs falsafi), para tokoh tersebut dihukum karena alasan yang sama yaitu membuat masyarakat resah karena ajarannya yang berbeda dengan yang dipercayai oleh masyarakat. 

cara pembasmian ajarannya pun sering kurang lebih sama antara satu dengan yang lainnya yaitu menggunakan alat politik berupa kekuasaan. nah ini juga terjadi pada sosok yang bernama lengkap Abdul Hamid Abulung, beliau adalah salah satu anak banua yang dihormati pada awalnya namun hidup beliau harus berakhir dengan naas di tangan algojo yang diperintahkan oleh raja dan diarahkan oleh beliau bagaimana cara membunuh beliau, karena konon beliau tidak bisa dibunuh dengan cara apapun selain cara yang beliau beritahu pada raja dan algojo. 

Abdul Hamid Abulung merupakan tokoh Banua (nama lain daerah Banjar) yang tidak memiliki asal usul yang jelas, banyak buku yang menjelaskan sejarah tasawuf banua akan tetapi sangatlah jarang yang menjelaskan siapa tokoh Abulung sebagai salah satu tokoh perkembangan tasawuf di banua. mengapa ini bisa terjadi???

ada sebuah teori yang berkembang dalam tasawuf yaitu setiap ajaran tasawuf akan sangat berkaitan dengan siapa yang berkuasa, dengan bahasa mudahnya adalah tasawuf dipengaruhi kekuasaan yang ada saat dia berkembang, ini sejalan dengan apa yang pernah dikatakan oleh salah seorang tokoh tafsir Amin Al-khulli, bahwa "kadang sebuah ajaran itu bisa sangat dicerca pada satu masa dan sangat dielukan pada masa yang lain" salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah kekuasaan, karna siapa yang berkuasa akan mengambil (walau tidak terlalu kelihatan) salah satu ajaran yang beredar sebagai pegangan walau belum tentu satu tapi biasanya akan terlihat mana yang lebih mayoritas itu yang akan diambil oleh yang berkuasa. 

mungkin ini juga yang terjadi pada Abulung, sebagai tokoh tasawuf yang mengajarkan ajaran yang berbeda dengan apa yang dipahami oleh publik maka sultan menghukum mati beliau dengan alasan bahwa apa yang diajarkan oleh publik, padahal tidak hanya hukuman mati jika menghadapi perbedaan dalam masyarakat, akan tetapi yang berkuasa bisa saja mengeksplorasi ajaran tersebut seperti yang dilakukan oleh para khalifah zaman terdahulu, mereka mendirikan sebuah bangunan untuk berkumpulnya para intelektual dari berbagai macam mazhab untuk memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan sebagai pengayaan diri, coba baca sejarah dinasti buwaih di sejarah Islam.

kembali ke Abulung, kita harusnya sudah bisa dewasa dalam menghadapi perbedaan karna kita sebenarnya sudah punya pengalaman yang bisa kita jadikan acuan sebagai pertimbangan untuk melangkah ke depan. semoga saja Abulung yang sudah ada di Alam kubur tetap menjadi inspirasi kita dalam menghadapi perbedaan ajaran, bukan terjebak dalam kekakuan dan jahatnya politik ajaran

0 comments:

Comment YA


Free chat widget @ ShoutMix
Template by : Kendhin x-template.blogspot.com